Rabu, 08 Juli 2015

MERKURI(Hg):ANTARA MANFAAT DAN EFEK PENGGUNAANNYA BAGI KESEHATAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN



Tugas Paper Ilmu Lingkungan
MERKURI(Hg):ANTARA MANFAAT DAN EFEK PENGGUNAANNYA BAGI KESEHATAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN



Oleh
Weni Listia Ningrum
12008024

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2015
MERKURI(Hg):ANTARA MANFAAT DAN EFEK PENGGUNAANNYA BAGI KESEHATAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN
ABSTRAK
Pencemaran suatu lingkungan oleh ion logam berat selalu menjadikan masalah bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, sehingga sangat penting untuk memonitor keberadaan ion logam berat dalam lingkungan. Salah satu ion logam berat yang berbahaya bagi kesehatan adalah merkuri (Hg). Merkuri merupakan logam berat yang toksik dan dapat diabsorpsi dengan mudah oleh manusia dan organisme lain. Merkuri dalam bentuk unsur ataupun ionnya sudah merupakan racun dalam jumlah yang kecil. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian terhadap keberadaan spesies merkuri dengan suatu teknik analisis yang tepat, sehingga dapat mendeteksi keberadaan spesies merkuri tersebut. Batas konsentrasi ion merkuri yang diperbolehkan sangat kecil dalam satuan mg mL-1.
Kata Kunci : merkuri,


1.PENDAHULUAN
            Merkuri, di mana keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat racun, seperti Cd, Pb, Cr, dan lain-lain. Logam berat ini dapat menimbulkan efek kesehatan bagi manusia tergantung pada bagian mana logam berat tersebut terikat dalam tubuh. Daya racun yang dimiliki akan bekerja sebagai penghalang kerja enzim, sehingga proses metabolisme tubuh terputus. Lebih jauh lagi, logam berat ini akan bertindak sebagai penyebab terjadinya alergi, mutagen, teratogen atau karsinogen bagi manusia. Merkuri merupakan logam dengan ikatan metalik terlemah dan satu-satunya logam berfase cair pada temperatur kamar, mengakibatkan tingginya tekanan uap pada temperatur kamar, dan ini sangat berbahaya sebagai racun jika terhisap oleh makhluk hidup. Secara sederhana dapat dijelaskan bagaimana merkuri dapat masuk ke dalam tubuh manusia. Sifat metil merkuri yang dapat terakumulasi di dalam tubuh makhluk hidup itulah yang membawa penyakit. Berbagai metode digunakan untuk mengurangi konsentrasi logam berat seperti merkuri yang akan dibuang ke perairan, tetapi dalam jangka panjang (lama) perlakuan tersebut dapat merusak lingkungan akibat dari akumulasi yang tidak sebanding dengan masa dari lingkungan tersebut. Metode yang baik tentunya dengan cara penetralan logam berat (merkuri) yang aktif tersebut menjadi senyawa yang kurang aktif dengan menambahkan senyawa-senyawa tertentu, kemudian baru dilepas ke lingkungan perairan. Namun demikian pembuangan logam berat non aktif ini juga menjadi masalah. Hal ini terjadi karena dapat dengan mudah mengalami degradasi oleh lingkungan menjadi senyawa yang dapat mencemari lingkungan.

2. PEMBAHASAN
1.Merkuri dan Manfaatnya
Merkuri (Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu – batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik. Secara alami merkuri dapat berasal dari gas gunung berapi dan penguapan dari air laut. Merkuri adalah unsur yang mempunyai nomor atom (NA= 80) serta memiliki massa molekul relatif (MR= 200,59), dapat mengalirkan arus listrik sebagai konduktor baik tegangan arus listrik tinggi maupun tegangan arus listrik rendah (Alfian, 2006).
Pemanfaatan logam merkuri pada saat ini sudah hampir mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan lingkungan. Selama kurun waktu beberapa tahun, merkuri telah banyak digunakan dalam bidang kedokteran,pertanian, dan industry. Bidang kedokteran telah menggunakan merkuri sejak abad ke-15 di mana merkuri digunakan untuk pengobatan penyakit kelamin. Komponen merkuri organic digunakan untuk obat diuretika sampai bertahun-tahun dan juga sebagai bahan kosmetik.
            Dalam bidang pertanian, merkuri digunakan untuk membunuh jamur sehingga baik digunakan untuk pengawet produk hasil pertanian. Merkuri organic juga digunakan untuk pembasmi hama pada tanaman seperti buah apel,tomat,kentang,dan juga digunakan sebagai pembasmi hama padi. Dalam bidang industri, terbanyak adalah pabrik alat-alat listrik yang menggunakan lampu-lampu merkuri untuk penerangan jalan raya. Mungkin ini disebabkan biaya pemasangan dan operasi yang murah dan arus listriknya dapat dialiri dengan voltase yang tinggi. Merkuri juga digunakan pada pembuatan baterai, kerena baterai dengan bahan yang mengandung merkuri dapat tahan lama dan tahan terhadap kelembapan yang tinggi. (FAO/WHO, 1976).

2.Merkuri dan Toksisitasnya
Merkuri, baik logam maupun metil merkuri (CH3Hg+), biasanya masuk tubuh manusia lewat pencernaan, bisa dari ikan, kerang, udang, maupun perairan yang terkontaminasi. Namun bila dalam bentuk logam, biasanya sebagian besar bisa diekskresikan. Sisanya akan menumpuk di ginjal dan system saraf, yang suatu saat akan mengganggu bila akumulasinya makin banyak. Merkuri dalam bentuk logam tidak begitu berbahaya, namun dalam bentuk metil merkuri, sebagian besar akan berakumulasi di otak. Oleh karena penyerapannya besar, dalam waktu singkat dapat menyebabkan berbagai gangguan. Mulai dari rusaknya keseimbangan tubuh, tidak bisa berkonsentrasi, tuli, dan berbagai gangguan lain seperti yang terjadi pada kasus minamata(Parvaneh,1979).
Merkuri yang terhisap dapat lewat udara berdampak akut atau terakumulasi dan terbawa ke organ-organ tubuh lainnya. Pada keracunan merkuri tingkat awal,pasien merasa mulutnya kebal, hidung tidak peka bau, mudah lelah, dan sering sakit kepala. Jika terjadi akumulasi yang lebih dapat berakibat pada degenerasi sel-sel saraf di otak kecil yang menguasai koordinasi saraf, gangguan pada luas pandang, degenerasi pada sarung selaput saraf dan bagian dari otak kecil (Edward, 2008).
Logam berat (Hg dan Pb) dalam air kebanyakan berbentuk ion dan logam tersebut diserap oleh kerang secara langsung melalui air yang membran insang atau melalui makanan. Selain itu juga dapat melalui kulit dan lapisan mukosa yang selanjutnya diangkut darah dan dapat tertimbun dalam jantung dan ginjal kerang. Toksisitas yang ditimbulkan akibat akumulasi dalam jaringan tubuh mengakibatkan keracunan dan kematian bagi biota air yang mengkonsumsinya. (Ibnu Dwi Buwono dkk, 2005).
3. Merkuri dan Efeknya terhadap Manusia dan Lingkungan
            Sebagian besar merkuri yang terdapat di alam ini dihasilkan oleh sisa industri dalam jumlah ± 10.000 ton setiap tahunnya. Penggunaan merkuri sangat luas dimana ± 3.000 jenis kegunaan dalam industri pengolahan bahan-bahan kimia, proses pembuatan obat-obatan yang digunakan oleh manusia serta sebagai bahan dasar pembuatan insektisida untuk pertanian(Christian,1970). Semua komponen merkuri dalam bentuk metil dan bentuk alkil yang masuk kedalam tubuh manusia secara terus menerus akan menyebakan kerusakan permanen pada otak, hati dan ginjal(Roger,1984).
Merkuri juga terikat oleh gugus sulfhidril, fosforil, karboksil, amida, dan amina, dimana dalam gugus tersebut merkuri dapat menghambat fungsi enzim. Efek toksisitas merkuri tergantung pada bentuk komposisi merkuri, jalan masuknya kedalam tubuh dan lamanya berkembang. Bentuk organic seperti metil-merkuri, sekitar 90% diabsorbsi oleh dinding usus, hal ini jauh lebih besar daripada bentuk anorganik yang hanya sekitar 10%. Akan tetapi, bentuk merkuri anorganik ini kurang bersifat korosif daripada bentuk organic. Bentuk organic tersebut juga dapat menembus barrier darah dan plasenta sehingga dapat menimbulkan pengaruh teratogenetik dan gangguan saraf(Darmono,2001). Indikator toksisitas Hg hanya dapat didiagnosis dengan analisis kadar Hg dalam darah atau urin dan rambut. Toksisitas uap merkuri melalui saluran pernapasan, biasanya menyerang sistem saraf pusat, sedangkan toksisitas kronik yang ditimbulkannya dapat menyerang ginjal. Elemen merkuri dan komponen alkil merkuri yang masuk ke dalam otak akan menyebabkan terjadinya perubahan struktur protein dan sistem enzim (Pinta, 1975).
            Toksisitas merkuri pada manusia dibedakan menurut bentuk senyawa Hg, yaitu anorganik dan organic. Keracunan anorganik Hg sudah dikenal sejak abad ke 18 dan 19 dengan gejala tremor pada orang dewasa. Gejala tremor telah dikenal sejak abad ke 18 , karena banyak pada saat itu banyak pekerja di pabrik topi dan wol menderita gejala tersebut. Perubahan pada hilangnya daya ingatan dapat juga terjadi pada toksisitas Hg dan keracunan kronis akan menyebabkan kematian. Selain toksisitas Hg anorganik, bentuk Hg organic juga menimbulkan toksisitas yang sangat berbahaya.

3. KESIMPULAN
1.Merkuri (Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu – batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik. Secara alami merkuri dapat berasal dari gas gunung berapi dan penguapan dari air laut.
2.Pemanfaatan logam merkuri pada saat ini sudah hampir mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dan lingkungan. Bidang kedokteran, juga dalam bidang pertanian dan dalam bidang industri.
3.Toksisitas merkuri pada manusia dibedakan menurut bentuk senyawa Hg, yaitu anorganik dan organic.


Daftar Pustaka
Alfian, Zul. 2006. Merkuri: Antara Manfaat dan Efek Penggunaannya Bagi Kesehatan Manusia dan Lingkungan. USU Repository.
Crishtian.1970. Atomic Absorption Spectroscopy Application In Agriculture. Biology and Medicine Inc, New York.
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemarannya, hubungan dengan Toksikologi Senyawa Logam. UI Press.Jakarta.
Edward. (2008). Pengamatan Kadar Merkuri di Perairan Teluk Kao (Halmahera) dan Perairan Anggai (Pulau Obi) Maluku Utara. Makara Sains. Volume 12. No. 2.November 2008. p. 97-98.
FAO/WHO. (1976). Mercury, Environmental Health Criteria I. Geneva: WHO.
Ibnu Dwi Buwono, dkk. (2005). Upaya Penurunan Kandungan Logam Hg (Merkuri) dan Pb (Timbal) pada Kerang Hijau (Mytilus viridis Linn) dengan Konsentrasi dan Waktu Perendaman Na2CaEDTA yang Berbeda. Jurnal Bionatura. Vol.7. No.3. November 2005. p192-195.
Irving. 1975. Ammoniate Mercury Toxicity in Cattle.can.vet,16:153-156.
Parvaneh. 1979. An Investigation on the Mercury Contamination of Persian Gulf Fish. Bull. Environ. Contam.Toxical. 23:357.  
Pinta, M., (1975), Detection and Determination of Trace Elements. USA: Ann Arbor Science Publisher, Inc.
Roger.1984. Water Analysis:Inorganic Species 2nd Ed.Orlando, Florida, Academic Press.

KEANEKARAGAMAN LICHEN SEBAGAI BIOINDIKATOR PENCEMARAN UDARA DI KOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU



TUGAS ILMU LINGKUNGAN
STUDI KASUS
“KEANEKARAGAMAN LICHEN SEBAGAI BIOINDIKATOR PENCEMARAN UDARA DI KOTA PEKANBARU PROVINSI RIAU”

Description: Description: D:\Logo-UAD-Black-White-Hitam-Putih.png







Kelas A
Nama Kelompok :
1.      Gita Aprilia                             (                )
2.      Mukratun                                (12008006)
3.      Pratiwi Trinurdiana A.            (12008012)
4.      Budi Prasetiyo                                    (12008018)
5.      Weni Listianingrum                (12008024)
6.      Iis Widayati                            (12008027)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2015

A.   Pendahuluan
Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara bebas. Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak dari pencemaran udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap kesehatan manusia (Wijaya, 2011).
Setiap organisme di suatu ekosistem mempunyai kemampuan dalam merepresentasikan kualitas dan perubahan yang ada di lingkungan. Bioindikator merupakan organisme, seperti mikroba, tumbuhan dan hewan, yang biasanya dipakai untuk memonitor kualitas daripada lingkungan. Organisme dan suatu kumpulan organisme tersebut berfungsi memonitor perubahan yang bisa mengindikasi suatu masalah yang ada di ekosistem. Perubahan tersebut bisa secara kimia, fisiologis atau perubahan perilaku. Bioindikator digunakan untuk mendeteksi perubahan dalam lingkungan alamiahnya, memantau untuk melihat kehadiran  polutan dan efeknya pada ekosistem tempat organisme hidup, memantau progres pada pembersihan lingkungan (environmental cleanup) dan tes substansinya, seperti pada air minum dalam melihat pada kehadiran parameter atau kontaminan yang dimilikinya (Issani, 2014).

B.     Tumbuhan Sebagai Bioindikator
Dalam kondisi yang normal, udara menyediakan komponen-komponen udara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan bagi tumbuhan. Komponen-komponen udara tersebut meliputi; nitrogen, oksigen, karbondioksida dan sulfur. Akan tetapi apabila kualitas udara memburuk atau tercemar, maka tumbuhan akan menunjukkan 2 respon terhadap keberadaan pencemaran udara tersebut yaitu respon makrokopis dan respon mikrokopis. Respon tumbuhan tersebut dapat digunakan sebagai indikator dari adanya pencemaran udara. Akan tetapi tidak semua tumbuhan dapat digunakan sebagai bioindikator dari pencemaran udara. Beberapa kriteria dari tumbuhan sebagai bioindikator pencemaran udara antara lain adalah SMART (Specific, Measurable, Attributable, Relevant dan Timely). Sedangkan jenis-jenis tumbuhan bioindikator pencemaran udara antara lain adalah dari spesies Bryophyta, Lichen, dan tumbuhan tingkat tinggi (Wijaya, 2011).

C.    Lichen Sebagai Bioindikator
Lumut kerak atau lichen adalah salah satu organisme yang digunakan sebagai bioindikator pencemaran udara. Hal ini disebabkan lichen sangat sensitif terhadap pencemaran udara, memiliki sebaran geografis yang luas (kecuali di daerah perairan), keberadaannya melimpah, sesil, perennial, memiliki bentuk morfologi yang relatif tetap dalam jangka waktu yang lama dan tidak memiliki lapisan kutikula sehingga lichen dapat menyerap gasdan partikel polutan secara langsung melalui permukaan talusnya. Penggunaan lichen sebagai bioindikator dinilai lebih efisien dibandingkan menggunakan alatatau mesin indikator ambien yang dalam pengoperasiannya memerlukan biaya yang besar dan penanganan khusus (Loopi et.al 2002).
Struktur morfologi lichen yang tidak memiliki lapisan kutikula, stomata dan organ absorptif, memaksa lichen untuk bertahan hidup di bawah cekaman polutan yang terdapat di udara. Jenis lichen yang toleran dapat bertahan hidup di daerah dengan kondisi lingkungan yang udaranya tercemar. Sementara itu, jenis lichen yang sensitif biasanya tidak dapat ditemukanpada daerah dengan kualitas udara yang buruk. Perbedaan sensitifitas lichen terhadap polusi udara berkaitan erat dengan kemampuannya mengakumulasi polutan (Martuti, 2013).

D.    Studi Kasus
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat kepadatan lalu lintas yang berbeda terhadap keanekaragaman lichen pada kulit pohon peneduh jalan, ada tidaknya hubungan antara jenis lichen tertentu dengan tingkat pencemaran udara dan hubungan antara tingkat kepadatan lalu lintas yang berbeda dengan akumulasi Pb dan Cr pada talus lichen di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Pemilihan lokasi survey di Kota Pekanbaru dilakukansecara purposive sampling berdasarkan pada tingkat kepadatan lalu_lintas, yaitu di Jl. Jend. Sudirman (kepadatan lalu lintas tinggi), Jl. Arifin Ahmad (kepadatan lalu lintas sedang) dan Jl. Adi Sucipto di kawasan TNI AURI Roesmin Nurjadin Pekanbaru (kepadatan lalu lintas rendah). Sedangkan kandungan logam (Pb dan Cr) yang terakumulasi pada talus lichen dianalisis menggunakan metode Atomic Absorbance Spectrophotometer (AAS). Jenis lichen yang dianalisis adalah lichen yang ditemukan di seluruh lokasi pengamatan dengan persentase kehadiran terbesar dan memiliki tipe talus foliose (Pandjaitan, 2012).
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan kadar kandungan logam Pb dan Cr pada talus lichen Dirinaria picta di ketiga lokasi penelitian. Konsentrasi Pb dapat 4 kali lebih besar dari pada Cr. Kandungan Pb dan Cr terendah ditemukan pada Jl. Adi Sucipto masing-masing sebesar 2,03 ppm dan 0,61 ppm. Pada Jl. Arifin Ahmad kandungan Pb dan Cr adalah sebesar 3,89 ppm dan 0,79 ppm, dan kandungan Pb dan Cr tertinggi ditemukan di Jl. Jend. Sudirman sebesar 4,48 ppm dan 1,00 ppm (Pandjaitan, 2012).
Sementara itu, hasil eksplorasi lichen di tiga lokasi pengamatan menunjukkan bahwa tingkat kepadatan lalu lintas berpengaruh terhadap keanekaragaman lichen yang ditemukan di kulit pohon peneduh jalan di setiap lokasi pengamatan. Semakin rendah tingkat kepadatan lalu lintas, maka akan semakin tinggi keanekaragaman jenis lichen yang ditemukan di suatulokasi. Dirinaria picta adalah jenis lichen kosmopolit yang memiliki toleransi yang luas terhadap pencemaran udara karena dapat ditemukan di seluruh lokasi pengamatan dan memiliki bentuk talus foliose, sehingga dapat digunakan sebagai alat biomonitoring pencemaran udara. Jenis lichen Parmotrema tinctorum berpotensi sebagai bioindikator pencemaran udara di Kota Pekanbaru karena hanya ditemukan di lokasi dengan kepadatan lalu lintas rendah. Terdapat korelasi antara tingkat kepadatan lalu lintas dan akumulasi logam pada talus lichen yang ditemukan, baik korelasi positif dan negative (Pandjaitan, 2012).





DAFTAR PUSTAKA

Issani, Winda Maria dkk. 2014. Paper Biomonitoring Lichens Sebagai Indikator Pencemaran Udara. FTSP Ilmu Lingkungan : ITS Surabaya
Loopi S, Ivanov D, Boccardi R. 2002. Biodiversity of Epiphytic Lichens and Air Pollution in the Town of Siena. (Environmental Pollution). Central Italy. 116 : 123-128 .
Martuti, NKT. 2013. “Peranan Tanaman Terhadap Pencemaran Udara Di Jalan Protokol Kota Semarang”. Biosantifika. Vol. 5. No. 1. Halaman 36-39.
Pandjaitan, Desi Maria dkk. 2012. Keanekaragaman Linchen Sebagai Indikator Pencemaran Udara di Kota Pekan Baru Provinsi Riau. “Skripsi”. FMIPA : Universitas Riau.
Pratiwi, ME. 2006. Kajian Lumut Kerak Sebagai Bioindikator Kualitas Udara (Studi Kasus: Kawasan Industri Pulo Gadung, Arboretum Cibubur dan Tegakan Mahoni Cikabayan). “Skripsi”. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Wijaya, Andhika. 2011. “Penggunaan Tumbuhan Sebagai Bioindikator Dalam Pemantauan Pencemarn Udara”. Skripsi. ITS : Surabaya.

Sabtu, 04 Juli 2015

sistem pencernaan manusia

http://seputarpendidikan003.blogspot.com/2015/03/sistem-pencernaan-pada-manusia.html


Pencernaan makanan pada manusia dapat terjadi secara mekanik maupun secara kimiawi.
1.Pencernaan mekanik yaitu proses mengubah makanan dari ukuran besar menjadi lebih kecil dengan bantuan alat-alat pencernaan. Alat yang membantu pencernaan mekanik seperti gigi, lambung, usus. Gerakan gigi seri memotong makanan, gigi taring merobek makanan, gigi geraham mengunyah makanan serta lambung dan usus melakukan gerakan meremas makanan. Pada pencernaan mekanik umumnya tidak mengubah susunan molekul bahan makanan yang dicerna.
2.Pencernaan kimiawi adalah proses mengubah makanan dari yang bermolekul kompleks menjadi bermolekul sederhana dengan bantuan enzim-enzim pencernaan.
ORGAN PENCERNAAN MANUSIA


1.      MULUT (ORIS)


Mulut merupakan organ pencernaan yang pertama bertugas dalam proses pencernaan makanan. Fungsi utama mulut adalah untuk menghancurkan makanan sehingga ukurannya cukup kecil untuk dapat ditelan dan masuk ke dalam organ pencernaan berikutnya.
Di dalam mulut terjadi pencernaan secara mekanik maupun kimiawi dengan bantuan gigi dan lidah. Gigi berfungsi untuk menghancurkan makanan, sedangkan lidah berfungsi membolak-balikkan makanan sehingga semua makanan dapat dihancurkan secara merata serta membantu menelan makanan.Pencernaan kimiawi di dalam mulut terjadi karena di mulut terdapat kelenjar air liur yang menghasilkan ludah yang mengandung air, lendir dan enzim ptialin. Air dan lendir berfungsi untuk melumasi rongga mulut dan membantu dalam proses menelan makanan sedangkan enzim ptialin berfungsi untuk mengubah amilum menjadi karbohidrat yang lebih sederhana, yaitu maltosa.


2.      KERONGKONGAN (ESOFAGUS)


Kerongkongan berfungsi menyalurkan makanan dari mulut ke lambung. Di dalam kerongkongan tidak terjadi proses pencernaan makanan. Makanan dari mulut dapat masuk ke dalam lambung karena adanya gerak peristaltik otot kerongkongan.
 3. LAMBUNG (VENTRIKULUS)


Lambung merupakan alat pencernaan berbentuk kantung. Dinding lambung tersusun dari otot-otot yang memanjang, melingkar dan menyerong. Hal ini memungkinkan makanan yang masuk ke dalam lambung dibolak-balik dan diremas lagi sehingga menjadi halus.
Selain mencerna makanan secara mekanik, lambung juga mencerna makanan secara kimiawi menggunakan cairan yang dihasilkan oleh lambung berupa air, lendir, asam lambung (HCl) serta enzim renin dan pepsinogen. Karena sifatnya yang asam, cairan lambung dapat membunuh kuman yang masuk bersama makanan.
4. USUS HALUS (INTESTINUM TENUE)

Setelah dicerna di lambung, makanan akan masuk ke dalam usus halus. Usus halus terdiri dari tiga bagian, yaitu usus duabelas jari (duodenum), usus kosong (jejunum) dan usus penyerapan (ileum). Usus duabelas jari dan usus kosong berperan penting dalam pencernaan secara kimiawi. Pencernaan kimiawi di usus halus terjadi dengan bantuan enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh kantong empedu dan pankreas.
Pencernaan makanan berakhir di ileum (usus penyerapan). Di ileum makanan yang telah dicerna akan diserap oleh dinding ileum dan diedarkan ke seluruh tubuh.
5. USUS BESAR (KOLON)

Zat-zat yang tidak diserap di usus halus selanjutnya masuk ke usus besar. Di usus besar ini terjadi penyerapan air dan pembusukan sisa-sisa makanan oleh bakteri pembusuk yaitu Escericia coli. Sisa makanan yang telah dibusukkan oleh bakteri pembusuk disebut feses dan akan dikeluarkan melalui anus.
6. REKTUM DAN ANUS

Feses yang merupakan hasil pembusukan sisa makanan oleh bakteri pembusuk sebelum dikeluarkan melalui anus ditampung terlebih dahulu di dalam rektum. Apabila rektum sudah penuh oleh feses maka akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk defekasi (buang air besar).